Rabu, 26 November 2014

BUKAN CERITA BIASA




Cerita Pendek, itulah dua kata yang membuatku pusing belakangan ini. Tugas pelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan Bu Wahyu ini sangat membuat otakku berpikir keras. Cerpen yang dibuat harus berdasarkan pengalaman pribadi. Itulah inti dari permasalahanku. Pengalaman pribadiku bukanlah sesuatu hal yang menarik untuk dijadikan cerpen menurutku.
Tugas ini mungkin sangatlah mudah bagi beberapa teman-temanku yang lain. Seperti ayu yang hobbinya memang mengarang, tugas ini menjadi hal mudah baginya. Begitu juga dengan Shofi dan Shafira mereka sudah mulai mengerjakannya. Sedangkan aku belum mulai menulis apapun. Setiap hari teman-temanku selalu mengingatkan tentang tugas ini, cerpen cerpen dan cerpen membuatku ingin cepat-cepat untuk segera menyelesaikan cerpenku.
 Sebenarnya aku juga ingin cepat-cepat menyelesaikannya, tapi ya bagaimana lagi. Pikiranku terasa tersumbat aku tidak bisa menemukan ide apapun. Sempat terlintas olehku untuk menulis apa saja yang bukan merupakan pengalaman pribadiku. Menurutku itu tidak terlalu buruk. Toh Bu Wahyu, guru Bahasa Indonesiaku tidak akan tahu kebenaran ceritaku itu. Tapi akhirnya aku berpikir dua kali untuk melakukannya. Sepanjang perjalanan pulang sekolah, pikiranku masih tertuju ke tugas cerpenku. Aku paling tidak suka dengan urusan karang-mengarang. Apalagi masalah pengalaman pribadi.
Menurutku, cerita hidupku itu terlalu datar untuk dijadikan sebuah cerpen. Setahuku cerpen haruslah menarik, penuh kejutan, dan berkesan. Lalu, kalau harus berdasarkan pengalaman pribadiku, menyerahlah aku. Kuputar otak mengingat hal menarik apa yang pernah kualami untuk dijadikan bahan cerpen. Lama aku berpikir. Dan hasilnya kosong, aku tidak bisa menemukan hal apapun yang menarik. Aku mencoba mencari inspirasi dengan membaca cerpen di majalah, mencari di internet, hingga menghayati drama di televisi, namun hasilnya nihil tidak ada yang berhasil. Semua cerita yang kulihat itu terlalu langka bagiku. Mengapa? Ya, karena aku merasa tidak pernah dan tidak akan mungkin mengalaminya. Mulai dari cerita cinta yang tidak direstui lalu cerita cinta yang ditemui dengan cara yang unik, seorang biasa bisa hidup bersama seorang yang hebat, seseorang yang sederhana bisa dicintai seseorang yang sempurna, keberhasilan menggapai mimpi, keberuntungan yang tiada henti.
Ah semua itu terlalu wah bagiku. Seperti yang kubilang tadi, terlalu indah untuk jadi kenyataan. Dan akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk tidur. Sampai pada hari Rabu aku menemukan ispirasi,  berawal dari membaca beberapa cerpen teman-teman ku di kelas yang sudah selesai membuat cerpen. Ketika aku membaca milik lili yang cerpenya hampir sama dengan kehidupan ku wah ternyata aku baru menyadari bahwa aku mempunyai cerita hidup yang telah lama ku lupakan.
Maklum karena cerita ini sudah lama terjadi mungkin tiga tahun yang lalu. Lagi pula aku sangka cerita ini mungkin taka da yang percaya. Mengapa aku berkata demikian karena aku rasa cerita ku ini sangat drama padahal tak pernah aku berfikir bahwa kenangan Persahabatan ini bisa ku angat menjadi cerpen pengalaman pribadi ku, dan akhirnya aku memutuskan untuk membahasnya kembali melalui cerpen ini.
Hem….hemm…..hem…
Cinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun  sulit di akhiri.
***
Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda gurau habiskan masa-masa sekolah  penuh suka, penuh gembira. Hampir semua masa-masa itu tak pernah hilang sedikitpun di benakku. Hem … Mungkin itulah salah satu  yang dinamakan suka Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta.  Sebenarnya aku tak terlalu mengerti apakah cinta yang ku alami cinta sejati atau hanya sekedar cinta monyet, ya …. Aku sih gak terlalu ambil pusing yang aku tau hanyalah perasaan suka dan suka.
Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir didepan matanya, mungkin kalian agak sedikit binggung tapi begitu lah yang terjadi,  Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di hidupnya. Namun ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karena akan berpisah selamanya. Inilah kebinggugan yang kalian pertanyakan mengapa masa-masa sekolahnya akan berakhir ?.

Begini ceritanya.
Aku dan Reza, sejak kecil sampai remaja atau lebih tepatnya SMP kami selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat kami berpisah. Tak pula kami  hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam persahabatannya. Meski aku tahu bahwa reza tak bisa bertahan hidup lebih lama dari diri ku. Hal itu tak membuatnya goyah atau pun menyerah mencintai dan menyayangi aku sebagai sahabatnya . Segala sesuatu baik sekolah, tempat les, tempat makan dan mainan kesukaan kami selalu satu selerah, mungkin karena kebiasaan selalu bersama, ya itulah faktor utama selain itu keluarga ku dan keluarga reza juga dekat upsstt dekat dalam artian tetangga, hehehe……tapi suatu ketika ada hal yang membuat kami harus terpisah jauh, jauh dan jauh sekali.
 Hem… pasti kalian berfikir jauh dalam artian Reza pergi meninggalkan Dunia. Huzzt gak kok Reza memang sakit tapi sakit yang Ia derita itu belum parah.  Hanya saja, Reza tak kuasa menahan Air mata ketika Aku akan mengatakan bahwa seminggu lagi aku akan  pergi meninggalkan dia di saat dia dalam keadaan yang butuh kesenangan, canda tawa dan seseorang yang mengerti Dia, bagaimana tidak aku akan meninggalkann kota itu bersama-sama dengan kenagan yang indah bersamanya. Hem.. sebenarnya aku tak mau pindah tapi semua  itu karena aku harus ikut bersama keluarga ku karena Ayah ku pindah Tugas. Sempat aku terdiam saat melihat reza menangis dalam benak ku apakah reza menagis karena dia menganggap aku sebagai sahabat atau lebih (rasa Cinta). Maklum, waktu itu aku baru saja lulus SMP jadi aku masih bodoh dalam urusan cinta bahkan sampai sekarang aku tak mengerti cinta yang sesungguhnya itu bagaimana.
Dua hari sebelum aku berangkat  aku pergi kesekolah untuk mengambil surat keterangan Hasil UJian (SKHU). Tepat dibelakang sekolah akan jadi saksi perpisahan cinta . Tempat favorit yang sering kami  kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya sunset yang jingga saat bimbel, tempat yang penuh akan kenagan manis .
pada masa-masa bersama dulu. Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang. 
Begitulah yang ku harapkan agar reza bisa melupakan ku dengan cepat. Tiba-tiba aku melihat reza sedang duduk sendiri di taman itu, tempat kami selalu bersama bercanda. Awalnya aku ingin menghampiri dia tapi aku takut ini akan membuat dia sedih.
Aku hanya bisa mengirimkan pesan singkat kepadanya aku menyayangi mu dan aku tidak ingin membuat mu membenci aku. Tidak lama kemudian mungkin 3 menit pesan baru masuk dan yaa.. betul sekali dia membalas pesan ku dan mengatakan aku juga menyayangi mu tapi hanya sebatas seorang sahabat J. Karena saat ini keadaan ku saat ini sangat jauh dari  perkiraan semua orang, hidup ku saat ini hanya untuk belajar dan melayani Tuhan sampai batas waktu yang telah ditentukannya J.
Dalam hati ku agak sedikit malu karena ternyata semua rasa yang ku alami hanya bertepuk sebelah tanggan. Tapi dilain sisi aku juga sangat senang karena hal yang selama ini ku takutkan tak akan terjadi. Hem ternyata semua tangis dan kenagan indah bersamanya hanya sebata sahabat . tiba waktu nya aku akan  pergi Tak sedikit air mataku  yang tertumpah untuk semuanya, manakala melihat tempat yang sering kami  lalui berdua hanya akan jadi kenangan.
Tak kalah hebat persahabatan cinta kami, hanya menjadi korban rasa itu hal biasa untuk ku. Berpura-pura lupa telah mencintai dan menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga aku tak terluka lagi dihati. Meski ceroboh tapi reza sudah menjadi sahabat sekalius orang yang ku cintai.
Tak terasa sampai pada waktu dimana bertahun –tahun kebersamaan kami hanya tersisa 1 jam saja.Tak banyak yang bisa dipersembahkan Reza untuk aku yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphoneku berdering. Tak lama membuka handphone, airmataku rasanya ingin  bercucuran di pipi, tapi aku mencoba menahan toh malu bukan kalo aku menangis di bandara . ‘waktu anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas airmatanya berderai.
“Kenapa Reza .” (Aku bertanya kepada nya)

“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya tulus ibgin keluar dari mataku,” Reza hanya tersenyum agar aku  tak mengkhawatirkan perasaannya.

“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” tepis ku.

Reza hanya tersenyum..

“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.

Airmata tulus mulai meleleh dari mata ku. “Sudah saatnya aku melupakan reza dan menutup lembaran lama
“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu. Aku hanya ingin memperbarui hidup ku di kota yang baru dengan orangyang baru.”

Sama hal nya aku akan kelihatan bodoh. Bagaimana tidak aku seprti orang bodoh  jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang? Mungkin kah Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.”
Aku menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi cowo itu (Reza).

“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”
(kata reza)

“ aku ingin kamu pergi dan tak usah  mengingat aku lagi (jawab ku)
Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalu mu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.” Lanjutku terbata-bata

Reza berkata mungkinkah kamu akan datang di saat aku sudah tak melihat dunia lagi?, aku hanya menjawab kamu akan sembuh, reza menjawab biarlah kisah kita yang kita lalui bersamaini baik sebagai sahabat, saudara atau mungkin kamu menggangapnya lebih. Lalu aku hanya menjawab inilah kehidupan kita. aku hanya bisa bekata ini lah cerita  yang tak biasa, karena cinta kita akan abadi di dalam persahabatan yang terus akan di kenang.

By